Al-Maahira IIBS Malang | Tawakkal Aja, Gak Usah Berusaha?

Tawakkal Aja, Gak Usah Berusaha?

Sering kali manusia berat sebelah saat mengamalkan teori keseimbangan dalam Islam, padahal Allah Ta'ala tidak hanya menurunkan Kitab (Al Qur'an) tapi juga Mizan "timbangan / neraca keadilan". 

"Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil". (QS. Al Hadid: 25)

Mizan ini menurut tafsir Al Alusi adalah kata yang mencakup semua hal yang layak disifati dengannya dari urusan kehidupan dunia & tempat kembali (akhirat).

Seseorang bisa saja berdalih dengan tawakkal padahal ia sembrono, tidak berhati-hati, ugal-ugalan, ingin kenyang tapi tidak mau makan, ingin lulus tapi tidak mau belajar, ingin maju tapi tidak mau berubah, dll. Ia beralasan bahwa takdir itu tidak akan pernah meleset, dan ia pun berdalil dengan firman Allah:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Katakanlah (Muhammad), 'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman'.” (QS. At Taubah: 51)

Tawakkal VS Mengambil Sebab Manusiawi (Berusaha)

Padahal yang begitu itu namanya tawakul (konyol) bukan tawakkal. Terkadang orang itu dominan menggunakan satu dalil tapi lupa dengan dalil yang lain misalnya firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri". (QS. Ar Ra'du: 11)

Terkadang kita ini juga berlindung dibalik nama tawakkal, padahal penyebabnya adalah kelemahan, keteledoran, kelalaian dan kegagalan kita sendiri

Atau ada orang sebaliknya, ia berdalih hanya dengan mengandalkan data dan fakta, hasil riset ilmiyah, hasil survey, penelitian, perencanaan yang matang, yakin berhasil, yakin menang, dll. tapi lalai tidak bertawakkal kepada Allah. Yang begini ini sombong karena lupa dengan Penguasa alam semesta, Allah Al Qahhar (Yang Maha Perkasa/ Mengubah Haluan/Mengintervensi).

Tawakkal dan mengambil sebab manusiawi ini sebenarnya tidaklah bertentangan satu sama lain, dan tidak perlu dibenturkan. Yang kita perlukan adalah memahami kembali konsep keseimbangan dalam Islam.

Di dalam Tafsir Ibnu 'Aasyur dijelaskan bahwa "Tawakkal adalah aktifitas hati dan akal di mana pelakunya bergantung kepada Allah mengharap pertolongan-Nya dan berlindung kepada-Nya dari kegagalan dan halangan di depan, dan bisa jadi juga diikuti dengan doa oleh lisan". 

Makanya firman Allah:
"...dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal". (QS. Ali Imran: 159)

Jadi tawakkal itu setelah bermusyawarah dan kebulatan tekad tidak dilakukan sejak awal dan bukanlah aktifitas fisik yang menjadikan pelakunya lengah dengan sebab-sebab manusiawi, seperti jawaban Allah kepada veteran Uhud yang bertanya: "Dari mana datangnya kekalahan ini??, padahal -kasarannya- perang ini dipimpin langsung oleh Nabi"

Dalam firman-Nya: "Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, 'Dari mana datangnya (kekalahan) ini?' Katakanlah, 'Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri.' Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu". (QS. Ali Imran: 165)

Jika kita teledor, tidak mengambil sebab-sebab manusiawi sepenuhnya 100%, lalu gagal dan berakibat terlantarkannya hak dan kewajiban kita dan orang lain, maka bisa jadi kita-lah yang berdosa -astaghfirullah-.

Jadi hakekat tawakkal ini adalah dengan mengambil sebab manusiawi 100% dan tidak meremehkan sedikitpun celah rincian penyebab kegagalan, diiringi dengan bergantung kepada Allah agar memberikan kemudahan dan kelancaran pada rencana tersebut dan atau agar Dia berkenan menutup celah yang berada di luar prediksi dan hitungan kita sebelumnya.

Allah Ta'ala berfiman: "Wahai orang-orang yang beriman! Ambillah kesiagaan kalian..." (QS. An Nisa': 71)

Sebagai bentuk kesiagaan itu penting untuk selalu melakukan evaluasi secara berkala, mengambil pelajaran dari masa lalu, berfikir kritis, berfikir untuk pengembangan & perencanaan.

Bagaimana Nabi memberikan contoh tawakkal yang sebenarnya: 

Menurut Ibnul Jauzi dalam buku Shoidul Khothir-nya sebelum berperang beliau berkonsultasi dengan dua orang tabib, memakai dua baju pelindung lengkap dengan pedang beliau.

Pada peristiwa lain beliau masuk Makkah kembali setelah keluar ke Thaif memilih untuk meminta suaka kepada Muth'im bin Adiy tokoh Quraisy kala itu. Pada perang Ahzab menghalau musuh dengan strategi parit, dan masih banyak lagi. Padahal beliau adalah manusia yang paling bertawakkal kepada Allah.

Termasuk peristiwa hijrahnya beliau dari Makkah ke Madinah telah memberikan gambaran utuh kepada kita bahwa beliau telah mengambil sebab-sebab manusiawi tidak hanya 100% tapi 200%, Allah Ta'ala sebenarnya Maha kuasa untuk langsung memindahkan beliau seperti peristiwa isra' & mi'raj sebelumnya. Tapi kali ini berbeda karena lebih sebagai teladan bagi kita semua tentang makna tawakkal tersebut.

Beliau SAW. berangkat minta ditemani Abu Bakar RA., ia diminta untuk menyiapkan dana dan kendaraan, Nabi keluar rumah pada malam hari, meminta Ali bin Abi Thalib RA. untuk menggantikan posisi tidur dengan selimut beliau, melewati jalur yang tidak biasanya, menuju ke arah Yaman tidak ke arah Madinah, melakukan kesepakatan siapa yang menyediakan bekal makanan dan siapa yang mengabarkan berita situasi terkini di sekitar Makkah, melakukan kesepakatan juga dengan penggembala kambing untuk menghapus jejak tunggangan beliau, menyewa penunjuk jalan profesional, bersembunyi tiga malam di dalam goa Tsur, setelah semua itu baru beliau 'berani' berkata...

"..sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, 'Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita'." (QS. At Taubah: 40)"

Akhirnya pertolongan Allah pun turun untuk mengintervensi keadaan

"Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana". (QS. At Taubah: 40)

Shollu 'Alan Nabi!, Wallahu A'lam


Baca juga | Bina Santri dan Peran Guru, Musyrif, Murobbi | Ssst! Dengerin Deh!
Share