Al-Maahira IIBS Malang | Puasa Ramadhan & Stabilitas Manusia

Puasa Ramadhan & Stabilitas Manusia

Selain puasa Ramadhan ini hukumnya wajib & menjadi tangga naik orang beriman menuju ketaqwaan di sisi Allah Ta'ala, puasa Ramadhan merupakan sistem yang didesain oleh Allah Ta'ala untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia guna menjaga stabilitas hidupnya; karena manusia ini adalah makhluk pertengahan antara binatang dan malaikat, di mana binatang diberi nafsu tapi tidak diberi akal, sementara malaikat diberi akal tapi tidak diberi nafsu, nah manusia diberi dua-duanya, nafsu dan akal. Keduanya menjadi tanggung jawab manusia utk menjaga, merawat, mengkombinasikan secara apik dan mengarahkannya pada hal-hal yang bermanfaat dan tidak melampaui garis batas yang telah Allah tetapkan, di situlah peran hati yang ada pada jiwa manusia.

Menjaga stabilitas fitrah diciptakannya manusia ini sangat penting agar manusia tetap eksis, dinamis dan produktif untuk mengemban misi memakmurkan bumi dan banyak memberi manfaat kepada sesama.

Oleh karena sepanjang tahun manusia lebih banyak bergelut dengan dunia nyata; sering kali akan tampak sisi kelewatan batas yang mereka lakukan; sehingga terkadang tampak dominan mengarah ke sisi ke-binatangan dari pada ke sisi ke-malaikatan-nya. Ada tiga peringatan Allah Ta'ala berikut ini:

  • Pertama: (كَلَّاۤ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَیَطۡغَىٰۤ ۝  أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰۤ)
    "Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup". (QS. Al 'Alaq: 6-7)
  • Kedua: ( وَلَا تَعۡتَدُوۤا۟ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ)
    "Dan jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
  • Ketiga: ( وَلَا تُسۡرِفُوۤا۟ۚ إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِینَ)
    "Dan jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan". (QS. Al A'raf: 31)

Tiga ayat di atas sekilas sama tentang larangan bersikap melampaui batas dan berlebihan, tapi sesungguhnya berbeda; 

Kata Thogho - thugyan seringkali dipakai pada ranah bahwa manusia melampaui batas pada sisi antara dia dengan Allah, di mana manusia tidak memenuhi kewajibannya sebagai makhluk kepada Penciptanya.

Sementara kata Ta'tadu - i'tidaa' sering dipakai utk melampui batas antar kepada sesama makhluk dengan mendzalimi, menipu, menyakiti, membunuh, dan lain sebagainya.

Dan kata Tusrifu - israaf sering kali dipakai melampaui batas dalam masalah harta atau kita istilahkan dengan boros dan menghambur-hamburkan harta, dalam ayat yang lain di sebut dengan kata Tabdziir.

Ketiga ranah itu akan terkendali dengan ibadah yang dengan syarat menahan dalam puasa ramadhan selama 1 bulan dan minimal harus satu bulan untuk mencapai stabilitas manusia sepanjang tahun, makanya bagi yang berhalangan puasa ada kewajiban qodho' di hari lain utk melengkapi -kecuali bagi orang tertentu-.

Di luar dari 1 bulan itu bersifat sunnah saja, karena kalau misalkan terlalu banyak puasa -kecuali bagi orang tertentu-, manusia juga tidak akan stabil, makanya ada larangan puasa wishal (menyambung puasa sampai malam bahkan sampai hari berikutnya) dan puasa sepanjang tahun.

Jiwa boleh kita tempa untuk bisa naik ke langit, tapi jangan lupa kaki kita masih menginjak bumi; dan masih butuh makan, minum, dan kebutuhan lainnya. Sebagai mana sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-:
لا رَهبانيَّةَ في الإسلامِ
"Tidak ada ke-rahib-an di dalam Islam". (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain: 
 إنَّ الرَّهبانيَّةَ لم تُكتَبْ علينا
"Sungguh ke-rahib-an itu tidak ditetapkan kepada kita". (HR. Abu Daud)

Termasuk jawaban beliau kepada 3 orang pemuda yang bertekad akan shalat sepanjang malam dan tidak tidur, berpuasa sepanjang tahun dan yang satu lagi tidak mau menikah, mereka ingin berlebihan ke arah ke-malaikatan

 ...لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّساءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي.  صحيح البخاري ٥٠٦٣

"...saya saja, ya puasa dan tidak, ya shalat dan tidur, dan saya juga menikah, barang siapa yang tidak suka sunnahku maka ia bukan golonganku". (HR. Bukhori)

Dari sinilah kenapa para ulama menyimpulkan bahwa ajaran Islam itu ajaran pertengahan dengan ungkapan berikut ini:

لا غلو ولا تقصير لا إفراط ولا تفريط
Kedua ungkapan itu maksudnya: "Tidak berlebihan ke sisi kanan jauh dan tidak berlebihan ke sisi kiri jauh"

بين التزمت والتفلت
"Antara kaku/beku dan lepas/luntur"

Semoga dengan puasa ramadhan ini kita akan mencapai titik kestabilan fitrah manusia diciptakan sehingga akan tetap dinamis, produktif dan banyak bermanfaat kepada sesama, Aamiin.

Wallahu A'lam bis Shawab

#ramadhan 1443 H.


Baca juga | Tujuan Hidup yang Sebenarnya | Idul Fitri Hari Bahagia dan gembira
Share