Al-Maahira IIBS Malang | Menjadi Pendidik yang Berkualitas

Menjadi Pendidik yang Berkualitas

Tiga Amalan yang Mengualitaskan Seorang Pendidik

Menjadi pendidik itu suatu anugerah, maka harus disyukuri. Di dalam banyak hadits disebutkan tentang pendidik orang-orang terbaik, seperti;

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Dari sahabat Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289)

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya." (Hadits Al Bukhari)

Menjadi Pendidik yang Berkualitas

Agar seorang pendidik itu berkualitas, ada tiga syaratnya;

  1. Yakin, bahwa Allah ta’ala ridho terhadap tugasnya guru atau pendidik, yakin bahwa tugas guru itu sangat mulia. Sehingga jika ada tawaran pekerjaan lain yang bukan guru, dengan gaji lebih tinggi, kita tidak tertarik dan lebih memilih tetap menjadi guru. Keyakinan semacam ini sangat penting, hanya dengan yakin itulah seorang guru bisa memberi manfaat. Ingat nasihat dalam mukaddimah kitab Imritihi

    وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
    "Sesiapa yang tidak yakin, tidak bisa memberi manfaat".

  2. Ilmu. Seorang guru harus mengajar bidang yang dia kuasai. Coba perhatikan dan renungkan, mengapa ada orang yang malas mengajar? Itu pasti karena dia tidak menguasai ilmu yang dia ajarkan. Senantiasalah menambah keilmuan. Dan dalam menambah ilmu jangan lupa yang namanya tazkiyatu nafs (penyucian jiwa) dari segala kotoran jiwa. Dengan tazkiyatu nafs, ilmu mudah didapat. Seperti tugasnya Rasulullah ﷺ diutus kepada umatnya,

    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (QS. Al Jumu’ah: 02)

  3. Menjaga kekompakan sesama pendidik. Jangan saling hasad dan dengki satu sama lain. Karena biasanya kalau sudah yakin dan berilmu, timbul hasad yang dihembuskan oleh syaithan. Tidak senang dengan nikmat Allah ta’ala yang diberikan kepada saudaranya. Perkara ini bisa diatasi dengan mengarahkan tujuan kita akhirat. Kalau tujuan kita mendidik adalah akhirat, tidak akan ada yang namanya penyakit hasad antar satu sama lain. Tapi jika tujuannya dunia, pasti akan timbul hasad. Bangun kekompakan para pendidik dengan saling peduli. Ketika ada yang sakit, harus dijenguk. Jika ada yang mengundang acara hajatan, usahakan datang, dan seterusnya. Dan jangan lupa untuk senantiasa berkumpul dengan orang-orang sholeh.

________

Resume kajian KH Abdul Wahid Ghozali (Gus Wahid), Ketua MUI Kab. Malang bidang Hubungan Ulama dan Umara, sekaligus salah satu pembina Al Maahira IIBS Malang-Indonesia.


Baca juga | Tawakkal Aja, Gak Usah Berusaha? | Jika Engkau Marah Lakukan Ini!
Share