Al-Maahira IIBS Malang | Kenapa Harus Malu?

Kenapa Harus Malu?

JANGAN MALU KETIKA MENANYAKAN ILMU …

Ummu Sulaim radhiallahu’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ

"wahai Rasullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika ia mimpi basah? Rasulullah bersabda: ya, jika ia melihat air (mani)" (HR. Al Bukhari 6121, Muslim 313).

Permasalahan mimpi basah tentu hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun lihatlah, Ummu Salamah radhiallahu’anha tidak malu menanyakannya demi mendapatkan ilmu dan demi melakukan hal yang benar. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun tidak mengingkarinya. Karena andai ia tidak bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentu ia tidak tahu bagaimana fiqih yang benar dalam perkara ini dan akan terjerumus dalam kesalahan.

Saudara-saudariku yang dirahmati Allah Ta’alaa. Malu adalah bagian dari iman, artinya tidak sempurna iman seseorang kecuali ia memiliki sifat malu. Dalam Shahihain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ

 "Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman" (HR. Al Bukhari 9, Muslim 35).

 Namun dalam urusan ilmu (terlebih ilmu agama) janganlah menahan diri dari-nya, karena ilmu tersebut tidak bisa diperoleh dari rasa malu oleh pemiliknya. Semoga Allah berikan taufiq dan hidayah kepada semuanya. Aamiin.


Baca juga | Puasa Ramadhan & Stabilitas Manusia | Menjadi Pendidik yang Berkualitas
Share