Jangan Terburu-buru dalam Menuntut Ilmu

Di antara tabiat manusia adalah sifat terburu-buru, instan, dan mencari jalan pintas dalam mencapai sesuatu. Hal itu telah dijelaskan oleh Allah ta’ala,

خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa” (QS. Al Anbiya: 37)

Jika manusia menuruti apa yang menjadi tabiatnya yakni ketergesa-gesaan, maka dia akan merugi. Betapa banyak sikap ketergesaan membuahkan penyesalan, kegagalan, dan bahkan kerusakan. Oleh karena itu, ayat tersebut menunjukkan kita akan adanya sifat ketergesaan dalam diri kita, dengannya kita jadi waspada agar selamat dari sifat ketergesaan dalam segala urusan.

Terlebih dalam menuntut ilmu, sebuah proses perubahan dari keadaan satu kepada keadaan yang lebih baik, yang membutuhkan tahap, langkah dan target. Akan riskan jadinya, bila menuntut ilmu ditempuh dengan ketergesaaan, seperti halnya belajar tuntas dalam waktu yang singkat. Atau mengajarkan hal banyak dalam waktu yang sebentar. Akibatnya, anak didik menjadi tidak faham, atau mungkin saja faham tetapi tidak membuahkan amal. Padahal puncak dari ilmu adalah amal, bukan angka-angka di rapot ataupun ijazah. Karena siswa bukanlah  mesin, yang hanya mendapatkan ilmu dari aspek pikiran (kognitif), namun nihil akhlak mulia. Siswa menjadi tak ubahnya seperti flashdisk yang hanya menyimpan data-data. Bahkan flashdisk bisa menjadi lebih baik dalam menyimpan ilmu secara lengkap, urut dan detil. Inilah yang terjadi jika pembelajaran hanya berorientasikan pada menyelesaikan bab, sub bab, atau judul-judul, dan yang semisalnya, yang pasti akan abai terhadap nilai kejujuran, kepedulian, keteladanan, kerjasama, dan seterusnya, karena aspek-aspek tersebut tidak bisa diukur dengan angka. Padahal aspek-aspek tersebut sangat penting, yang membedakan antara manusia dengan mesin.

Jika model pendidikan semacam ini tidak dievaluasi dan diperbaiki, dampak yang paling kentara terlihat di lapangan adalah ketergesaan mencapai sesuatu dan tidak efektif. Seperti pengalaman penulis saat mendapat tugas mengajar di sebuah kegiatan ekstra sebuah perguruan tinggi, bab thaharah (bersuci) yang mencakup berwudhu, mandi besar, dan tayamum dalam waktu 1 jam 30 menit. Bagaimana hasilnya? Peserta tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya sedikit. Materi hanya tersampaikan dalam bentuk keterangan-keterangan, tanpa makna dan penghayatan untuk membentuk sebuah kesadaran; mengapa kita ber-thaharah? Sedangkan kita diburu waktu yang sudah dibagi dengan kegiatan yang lain.

Pendidikan Berbasis Makna

Pendidikan berbasis makna adalah pendidikan yang bertujukan peserta didik memahami dan memaknai materi yang diajarkan, tanpa dibatasi waktu atau jadwal yang telah ditentukan. Waktu atau jumlah pertemuan materi hanya sekedar rencana awal. Sedangkan dalam praktiknya, materi yang belum difahami oleh siswa akan diulang kembali, dimaknai, sampai seluruh siswa memahami dan memaknai. Arti memahami materi adalah siswa dapat menyampaikan ulang dalam ungkapan yang lain, disusun berdasarkan pemahamannya. Sedangkan arti memaknai materi adalah siswa terkesan dan atau tergugah dari materi yang diajarkan, ditunjukkan dengan sikap merencanakan atau meniatkaan ingin mengamalkannya dan atau telah mengamalkannya. Misalnya materi Al Qur’an. Siswa disampaikan hadith dan penjelasan tentang keutamaan belajar dan mengajar Al Qur’an. Guru akan bertanya kepada siswa, “Apa yang Ananda fahami dari hadith tersebut?”, “Apa yang Ananda perbuat berdasarkan hadith tersebut?”, “Apakah Ananda telah mengerjakan apa yang sudah Ananda rencanakan/niatkan dari hadith tersebut?”, “Jika belum dilaksanakan, apa kendalanya?”, dan seterusnya. Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab dengan baik, materi tidak bisa dilanjutkan, sampai semua siswa dapat memahami dan memaknainya. Guru harus bisa membantu siswanya sampai mencapai indikator tersebut. Dengan demikian, guru benar-benar berperan sebagai pendidik; membimbing, memperhatikan, peduli, membantu, memberikan teladan, dan seterusnya. Terlebih di saat ini, semua ilmu dapat diperoleh melalui jaringan internet seperti Google dan Youtube, sosok guru yang disebutkan di atas, otomatis terbedakan dari smartphone dan yang semisalnya, baik dari segi cara, materi dan maupun hasil.

Dasar Pendidikan Berbasis Makna

Dasar yang menjadi pijakan dalam pendidikan ini adalah peristiwa turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur selama 23 tahun lamanya. Sejarah ini memberikan petunjuk pada kita bahwa untuk mendidik generasi terbaik, tidak dilakukan secara terburu-buru dalam jangka waktu tiga atau enam tahun. Dalam peristiwa turunnya Al Qur’an, ada di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang tidak genap usianya sampai Al Qur’an tuntas diturunkan, ada yang gugur di medan perang, ada juga yang meninggal bukan karena perang. Artinya, di antara mereka ada yang tidak sampai pada ketuntasan materi, namun kualitas dedikasi mereka kepada Rasulullah ﷺ sangatlah tinggi, kualitas ibadah mereka kepada Allah ta’ala juga tinggi, sehingga masing-masing mereka menjadi model dan contoh nyata nilai-nilai Islam. Apa yang membuat mereka demikian? Tidak lain jawabannya adalah pendidikan yang bertujukan pada kefahaman, penjiwaan, dan kebermanaknaan.

 

Risiko Ketergesaan

Proses dan kebiasaan para ulama dalam menuntut ilmu, yang tertuang dalam kisah-kisah bersejarah, sangatlah jauh dari ketergesaan. Di antara mereka ada yang melakukan perjalanan yang cukup lama dalam mencari hadith, seperti halnya Jabir bin Abdulllah, pernah melakukan perjalanan satu bulan lamanya untuk mencari satu hadith. Ada juga ulama yang menulis kitab selama 25 tahun lamanya. Mungkin kita bertanya, bukankah waktu mereka telah terbuang percuma? Sedangkan di jaman kita sekarang ilmu bisa didapat dengan mudah dan cepat, sehingga ilmu bisa didapat dalam waktu yang singkat, dan banyak?

Mari kita jawab, jika kita renungkan secara jujur, apakah ilmu yang telah didapat itu bisa diingat kuat? Ataukah harus membuka internet telebih dahulu, baru bisa menjawab permasalahan? Rasanya kita cenderung demikian. Di sinilah letak perbedaannya, yakni keberkahan ilmu itu sendiri. Sehingga muncullah sebuah hipotesis, ilmu yang didapat dengan susah payah, akan susah hilang dan lupanya. Sebaliknya, ilmu yang sangat mudah didapat, akan mudah hilang dan lupanya.

Dalam sebuah kaidah di dalam ilmu Ushul Fiqh dikatakan,

من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه

“Barang siapa yang terburu-buru terhadap sesuatu sebelum waktunya, maka dia dihukum tidak mendapatkannya” (Syarh Majallatul Ahkam, hlm. 87)

Ibarat kita ingin menikmati buah yang manis, tetapi kita terburu-buru memetiknya sebelum masa panennya, pasti kecut rasanya, dan kita tidak bisa menikmati buah tersebut. Di dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita ingin memenuhi botol dengan air, pasti kita tuangkan sedikit demi sedikit, tidak sekaligus. Cara seperti ini pernah dinasihatkan oleh Ibnu Syihab kepada muridnya, Yunus ibnu Yazid Al Ayli Al Muhaditth (seorang yang mengetahui segala permasalahan Hadits, dan hafal kitab hadith yang enam beserta sanad dan para perawinya). Suatu kali Ibnu Syihab berkata kepadanya,

«يَا يُونُسُ! لاَ تُكَابِر ِالعِلْمَ، فَإِنَّ العِلْمَ أَوْدِيَةٌ فَأَيَّهَا أَخَذْتَ فِيهِ قَطَعَ بِكَ قَبْلَ أَنْ تَبْلُغَهُ، وَلَكِنْ خُذْهُ مَعَ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِي، وَلاَ تَأْخُذِ العِلْمَ جُمْلَةً، فَإِنَّ مَنْ رَامَ أَخْذَهُ جُمْلَةً ذَهَبَ عَنْهُ جُمْلَةً، وَلَكِنِ الشَّيْءَ بعْدَ الشَّيْءِ مَعَ اللَّيَالِي وَالأَيَّامِ» [«جامع بيان العلم وفضله» لابن عبد البرّ: (431)].

“Wahai Yunus, janganlah kamu sombong di hadapan ilmu. Karena ilmu itu laksana lembah-lembah. Jika kamu melaluinya sekaligus, kamu akan terhenti sebelum meraihnya. Tetapi laluilah berhari-hari. Janganlah kamu ambil ilmu itu sekaligus, karena barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambillah sedikir demi sedikit, bersamaan dengan hari-harimu dan malam-malammu” (Jami’ Bayan Al ‘Ilm wa Fadhlih, Ibnu Abdilbarr, 431).

Cara Menambah Ilmu

Tidak diragukan lagi, setiap orang akan merasa senang dengan bertambahnya ilmu. Akan tetapi, yang dimaksud bertambahnya ilmu di sini adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang difahami, dimaknai dan diamalkan. Inilah kualitas, bukan kuantitas. Pendidikan berbasis makna bertujukan bertambah kualitas ilmunya. Al Imam As Syafi’i berkata,

ليس العلم ما حُفظ ولكن العلم ما نفع

“Ilmu itu bukanlah yang dihafal, akan tetapi ilmu itu adalah yang bermanfaat” (Tadzkiratus Sami’, 25).

Imam Malik pernah berkata kepada Ar Rasyid,

إذا علمت علما فلير عليك أثره وسكينته وسمته ووقاره وحلمه. لقوله صلى الله عليه وسلم: العلماء ورثة الأنبياء

“Jika Anda telah mengetahui suatu ilmu, hendaknya tampak pada diri Anda; buah dari ilmu (amal saleh), ketenangan, wibawa, keluhuran, dan sikap lemah lembut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, ‘Ulama adalah pewaris para Nabi’.” (Tadzkiratus Sami’, 26).

Bagaimana caranya menambah ilmu yang bermanfaat? Pertama kita harus memahami do’a, “Robbi zidni ilma” (Wahai Rabb, tambahkan aku ilmu), kutipan doa dari surat Thaha ayat 144. Makananya, yang sesungguhnya membuat ilmu kita bertambah adalah Allah ta’ala. Maka serahkanlah bertambahnya ilmu itu kepadaNya, kita hanya melakukan sebab-sebabnya. Sebab-sebab bertambahnya ilmu yang paling utama adalah dengan mengamalkannya. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

هتف العلم بالعمل فإن أجابه و إلا ارتحل

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu dipanggil dengan cara diamalkan, jika tidak ilmu akan pergi” (Al Jami’, Ibnu Asakir).

Dengan mengamalkan ilmu, walau ilmu yang diterima itu sedikit, insyaAllah sarat baraokah dan dapat mengundang ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan oleh para siswa, dan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat mereka.

_______________

Achmad Tito Rusady, S.S., M.Pd, Kepala Kepesantrenan Al Maahira IIBS, Malang-Jawa Timur-Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *